Objek pajak adalah sebuah penghasilan atau suatu tambahan kemampuan ekonomi yang dimiliki oleh seorang wajib pajak dan akan terkena pajak. Baik penghasilan yang berasal saat menjalani aktivitas di dalam negeri maupun pada saat Anda berada di luar negeri.

Objek pajak umumnya akan berupa penghasilan. Beberapa jenis penghasilan bisa kita kategorikan dalam beberapa jenis objek pajak. Penghasilan akan dapat terkena pajak sesuai dengan tarif dan jenis pajak yang berlaku.

Jenis-Jenis Objek Pajak?

Mengutip dari situs resmi pajak Indonesia, maka kita bisa mengartikan objek pajak sesuai dengan jenisnya masing-masing. Beberapa jenis objek pajak tersebut adalah sebagai berikut ini.

  1. Penggantian atau imbalan yang berkaitan dengan hasil dari sebuah pekerjaan atau jasa. Imbalan tersebut bisa kita terima dalam bentuk gaji, upah, komisi, tunjangan, honorarium, gratifikasi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau beberapa macam imbalan dalam bentuk lainnya. Kecuali memang imbalan atau penggantian tersebut memiliki ketentuan lain dalam Undang-undang Pajak Penghasilan.
  2. Hadiah atau bonus yang kita dapatkan dari undian, perlombaan, pekerjaan, dan kegiatan lain yang membuat Anda mendapatkan suatu  penghargaan.
  3. Laba usaha yang Anda peroleh dari suatu kegiatan bisnis atau usaha tertentu, baik perorangan maupun suatu badan usaha.
  4. Keuntungan yang Anda peroleh dari suatu kegiatan penjualan dan atau suatu pengalihan harta. Hal-hal tersebut termasuk yang ada dalam daftar berikut ini:
  • Keuntungan dari sebuah pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, maupun beberapa jenis badan lainnya. 
  • Keuntungan yang Anda peroleh dari kegiatan pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu, atau anggota dari suatu perseroan, persekutuan, dan badan yang lainnya;
  • Keuntungan dari sebuah kegiatan likuidasi, peleburan, penggabungan, pemekaran, pengambilalihan sebuah usaha, pemecahan, atau sebuah kegiatan reorganisasi dengan nama dan dalam bentuk apapun.
  • Keuntungan dari suatu pengalihan harta yang berupa hibah, hadiah, bantuan, maupun dari sebuah sumbangan. Kecuali bila hibah tersebut berasal dari keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus, atau berasal dari keluarga yang satu derajat, maupun yang berasal dari badan keagamaan, badan pendidikan, dan badan sosial. Beberapa badan sosial juga termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang mengoperasikan sebuah usaha mikro dan kecil. Ketentuan secara lengkap telah tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan. 
  • Keuntungan yang Anda peroleh dari suatu penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan. Maupun dari tanda turut serta dalam sebuah pembiayaan, dan yang berasal dari permodalan dalam perusahaan pertambangan.
  1. Penerimaan kembali dari sebuah pembayaran pajak yang telah menjadi beban, dan digunakan sebagai biaya dan pembayaran tambahan dalam proses pengembalian pajak.
  2. Penghasilan dari sebuah bunga termasuk bunga premium, bunga diskonto, maupun yang berasal dari imbalan bunga jaminan dari pengembalian utang.
  • Premium bunga akan Anda dapatkan dari sebuah penjualan obligasi dengan nominal lebih tinggi, sedangkan sebuah diskonto adalah sebuah pembelian obligasi dengan jumlah di bawah nilai nominalnya. 
  • Premium adalah sebuah penghasilan yang diperoleh bagi yang menerbitkan obligasi, sedangkan diskonto adalah penghasilan yang diperoleh oleh pihak yang membeli obligasi.
  1. Dividen yang kita peroleh dalam nama maupun bentuk apapun, seperti yang tertuang dalam daftar berikut ini. 
  • Pembagian hasil dividen dari suatu perusahaan asuransi terhadap pemegang polis. 
  • Pembagian dividen dari hasil sisa usaha koperasi.
  • Pembagian laba yang Anda peroleh baik secara langsung ataupun tidak langsung.
  • Pembayaran kembali dari sebuah kegiatan likuidasi yang melebihi jumlah modal yang disetor
  • Perolehan sebuah saham bonus tanpa penyetoran, baik yang Anda peroleh dari kapitalisasi agio saham, maupun yang lainnya. Kecuali jika jumlah nilai nominal saham setelah pembagian saham bonus ternyata tidak melebihi setoran modalnya.
  • Pembagian laba dividen dalam bentuk saham lainnya.
  • Pencatatan tambahan modal yang Anda peroleh tanpa penyetoran, kecuali jika tambahan modal tersebut berasal dari kapitalisasi selisih lebih revaluasi aktiva tetap.
  • Pembayaran kembali dengan jumlah seluruhnya atau sebagian dari modal yang telah Anda setor. Kecuali jika pembayaran kembali tersebut merupakan dampak dari sebuah pengecilan modal (statuter) yang telah dilakukan secara sah
  • Pembayaran atau penghasilan yang Anda peroleh dari tanda-tanda laba.
  • Bagian laba yang Anda peroleh sehubungan dengan kepemilikan obligasi
  • Pengeluaran perusahaan yang digunakan untuk keperluan pribadi sebagai pemegang saham, dan yang telah dibebankan sebagai biaya perusahaan.
  1. Royalti atau pengembalian dari sebuah penggunaan hak.
  2. Hasil dari sewa atau penghasilan persewaan yang lain dengan penggunaan harta Anda.
  3. Penerimaan atau perolehan dari suatu kegiatan pembayaran berkala.
  4. Keuntungan dari pembebasan utang.
  5. Keuntungan yang Anda dapatkan dari dari selisih kurs mata uang asing.
  6. Selisih lebih yang Anda dapatkan dari sebuah penilaian kembali aktiva.
  7. Premi yang kita dapat dari sebuah asuransi.
  8. Iuran yang kita terima dari sebuah perkumpulan dari, apabila para anggotanya memang terdiri dari para Wajib Pajak yang sedang menjalankan usaha.
  9. Tambahan kekayaan neto yang kita peroleh dari sebuah penghasilan yang belum dikenakan pajak.
  10.  Penghasilan dari usaha yang menggunakan konsep ekonomi syariah.
  11. Imbalan bunga yang sudah tertuang dalam Undang-Undang mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan.
  12. Surplus dari Bank Indonesia.

Baca juga: Subjek Pajak: Pengertian dan Jenisnya

Pengecualian Objek Pajak

Sedangkan yang akan dikecualikan dari Objek Pajak dan tidak akan menjadi objek pajak adalah sebagai berikut.

  1. Bantuan atau Sumbangan. Termasuk diantaranya adalah zakat dari badan amil zakat atau lembaga amil zakat. Atau beberapa sumbangan keagamaan lain, bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia.
  2. Harta hibah yang diperoleh dari keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat.
  3. Harta Warisan
  4. Harta yang termasuk dalam setoran tunai dari sebuah badan.
  5. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa dalam bentuk natura dari Wajib Pajak atau Pemerintah.
  6. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada perorangan pribadi. Termasuk diantaranya seperti asuransi jiwa, kesehatan, kecelakaan, dwiguna, dan beasiswa.
  7. Dividen dari perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, BUMN, BUMD.
  8. Iuran dari dana pensiun yang sah. 
  9. Penghasilan dari modal dari dana pensiun.
  10. Bagian laba yang dari anggota perseroan komanditer. Jumlah moda tersebut tidak akan terbagi atas saham-saham, persekutuan, firma, perkumpulan, dan kongsi.
  11. Penghasilan perusahaan modal ventura berupa bagian keuntungan dan laba dari badan pasangan usaha yang beroperasi dan berdiri di Indonesia.
  12. Beasiswa berdasarkan persyaratan tertentu, dengan ketentuan yang sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.
  13. Sisa lebih bagi badan atau lembaga dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan. 
  14. Bantuan atau santunan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial kepada para Wajib Pajak tertentu yang sudah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan.

Penutup

Bagi seorang warga negara yang taat pajak, maka Anda memang harus mengetahui secara detail mengenai objek pajak mana saja yang wajib Anda bayarkan pajaknya. Anda bisa mengkategorikan penghasilan Anda pada beberapa jenis objek pajak agar bisa mengetahui objek pajak mana yang wajib Anda bayarkan. Sedangkan beberapa jenis yang lain mungkin akan termasuk pada objek pengecualian pajak, sehingga Anda tidak perlu membayarkan pajaknya.

Untuk bisa selalu mengetahui jumlah nominal dan objek pajak yang sesuai, Anda bisa memanfaatkan jasa konsultan pajak maupun layanan sejenis. Semoga artikel ini bisa menjadi pedoman bagi kewajiban pajak Anda.